Selasa, 28 Agustus 2012

Sulteng Dikepung Bencana Alam! Usai Gempa, Dihantam Banjir Bandang


WARGA Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Kota Palu mengangkat jasat Nelly Baole (35) pasca terseret arus banjir bandang, Minggu (26/8). Selain Nelly, Poltak alias Batak atau Abang (45) juga menjadi korban tewas akibat bencana tersebut. FOTO: MISBAH/MERCUSUAR

HEADLINE, – Belum usai duka akibat gempa 6,2 SR mengguncang Kabupaten Sigi, Sabtu malam (25/8), wilayah Kabupaten Parigi Moutong dan Kota Palu, luluh lantak diterjang banjir bandang. Sulteng diuji lagi, Sulteng dikepung bencana alam.

Banjir bandang yang menerjang sekitar pukul 23.30 Wita, menewaskan tiga warga, dan tiga lainnya belum diketahui nasibnya. Tim SAR beserta warga masih melakukan pencarian. Selain itu¸ratusan rumah di beberapa desa di wilayah Parigi Moutong dan Kota Palu¸rusak parah akibat terjangan material kayu dan batu yang terbawa banjir bandang.


Selain menewaskan tiga warga, banjir bandang yang terjadi di Kota Palu dan Kabupaten Parmout juga menyebabkan satu jembatan utama yang menghubungkan antara Palu dan Poso putus, puluhan rumah rusak berat, belasan rumah hanyut, belasan sepeda motor dan dua mobil hanyut, ratusan hektar sawah rusak serta hasil panen kopra terbawa air. (Lihat box data sementara dampak banjir bandang). 

Dari Kota Palu dilaporkan, banjir bandang yang menyapu lokasi tambang rakyat di Kelurahan Poboya, Kecamatan Mantikulore, Sabtu (25/8) malam merenggut nyawa dua warga di areal tambang tersebut. Korban tewas itu masing-masing Poltak alias Batak atau Abang (45) dan Nelly Baole (35). 

Poltak alias Batak atau Abang awalnya ditemukan oleh Ketua RT 04 RW 04 Kelurahan Tanamodindi, Daud (60) di Sungai Pondo, Jalan Merpati, Lorong Malaya, Kelurahan Tanamodindi, Kecamatan Palu Selatan, Minggu (26/8) sekitar pukul 06.00 Wita. Selanjutnya, korban yang diketahui baru seminggu tinggal di areal tambang Poboya itu diangkut oleh tim dari Badan Sar Nasional (Basarnas) menuju RS Bhayangkara Palu. 

“Korban ditemukan dalam posisi tengkuram dan telanjang. Tinggi badannya 160 centimeter dan mengalami luka di sekujur tubuhnya, karena diduga terbentur batu dan terseret dari Poboya hingga Tanamodindi,” ungkap Kapolres Palu, Ahmad Ramadhan. 
Sementara itu, Nelly Baole ditemukan sekira pukul 10.00 Wita di bantaran sungai tidak jauh dari areal tambang. Nelly diketahui memiliki dua anak yang tinggal di Manado, Sulawesi Utara. Sementara suaminya, Yon selamat karena meninggalkan areal tambang untuk berbelanja makanan di Kota Palu. 

Pasca divisum di RS Bhayangkara Palu, jasat Nelly langsung dibawa ke kampung halamannya di Sindulang Satu, Kecamatan Tuminting, Manado untuk dimakamkan. 
Komandan Tim Basarnas, Wibowo mengaku laporan yang masuk kepada pihaknya masih ada dua orang lagi yang belum ditemukan. “Kami belum mengetahui nama dua korban yang hilang itu. Tapi status mereka masih belum jelas. Jadi kami belum dapat memastikan apakah mereka masih hidup atau tidak,” ujar Wibowo. 

Ia menambahkan, pihaknya bersama tim forensik dari Polres Palu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu dan relawan dari Mapala segera menyisir sungai hingga pantai mulai hari ini, Senin (28/8). “Kami sudah menyisir sungai di Poboya. Jadi kalau belum ketemu, kami akan melanjutkan pencarian menyisir sungai hingga ke laut,” tuturnya. 

Tak hanya menyebabkan dua korban tewas dan dua hilang, banjir bandang itu juga merubuhkan ratusan tenda, kios semi permanen dan bangunan permanen di areal tambang tersebut. Keterangan dari Tim Barisan Tambang menyatakan bahwa sekira 470 tenda dan 200 lebih bangunan semi permanen hanyut. 

Sementara ditemukan dua mobil yang terseret arus, satu jenis Daihatsu Feroza ditemukan dalam kondisi terbalik dan satu jenis Toyota Hilux dalam kondisi tertimbun bebatuan di sungai. Sedangkan motor yang sudah ditemukan sebanyak delapan unit. Tim itu menyatakan masih ada sekitar 100 lebih tenda, bangunan semi permanen dan permanen yang tidak seutuhnya hanyut. 

Sekretaris Kecamatan Mantikulore, Goenawan mengatakan, korban banjir di Kelurahan Talise seluruhnya berjumlah 37 keluarga atau 163 jiwa. 

Untuk sementara sebanyak 27 keluarga diungsikan di Masjid Nurul Istiqomah, Jalan Tinombala, yang dijadikan sebagai posko. Sedangkan 10 keluarga ditempatkan sementara di Masjid Jami, Jalan Tombolotutu. 

Banjir juga merusak dua rumah di sempadan Sungai Pondo, Kelurahan Besusu Timur, Kecamatan Palu Timur. Goenawan menambahkan, posko pengungsian di Masjid Nurul Istiqomah merupakan posko terpadu yang didirikan Dinas Sosial dan Tenaga Kerja, Dinas Kesehatan dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah. Sejumlah kebutuhan pengungsi juga sudah disalurkan antara lain selimut, makanan dan obatan-obatan. 

Sementara koordinator posko kesehatan di masjid ini, Hendra , mengatakan dari 27 pengungsi korban banjir Talise di Masjid Nurul Istiqomah, sebanyak 14 adalah balita dan dua orang ibu hamil. Satu di antaranya telah hamil delapan bulan. 

“Selain memeriksa kesehatan pengungsi korban banjir di posko, kami juga memantau langsung kondisi korban banjir,” kata Hendra. Di posko yang didirikan di teras masjid itu, sudah 12 korban banjir yang memeriksakan kesehatannya. Petugas kesehatan ini juga senantiasa menguatkan psikologis para korban banjir. Sebanyak lima petugas dari Puskesmas Talise ini juga dibantu mahasiswa dari Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako. 

Walikota Palu, Rusdy Mastura dan keluarga juga menyempatkan waktunya mengunjungi lokasi banjir dan para korban di posko pengungsian. 

Di Parigi Moutong, Wakil Bupati Kemal Natsir Toana, langsung terjun ke lapangan mendatangi desa-desa yang paling parah diterpa banjir bandang di wilayah Kecamatan Parigi Selatan. 

“Saat ini pemerintah daerah masih berkosentrasi untuk upaya tanggap darurat. Selain mendata kerusakan, jumlah korban, kami juga mengupayakan secepatnya agar warga yang menjadi korban bencana bias tertangani dengan baik,” ujar Kemal Toana yang ditemui di perbatasan Desa Boyantongo dan Dolago, Kecamatan Parigi Selatan, Minggu pagi. 
  
Sementara itu, salah seorang korban banjir, Rizal, warga Jalan Tombolotutu menututurkan, sekitar pukul 23.30 Wita, ia dikejutkan dengan desiran air yang berasal tidak jauh dari tempat didurnya, namun saat itu ia belum tahu jika rumahnya sudah digenangi air. Ia baru tahu, setelah iparnya berteriak banjir. 

Melihat kondisi itu, ia pun panik dan langsung mengamankan isi rumahnya ketempat yang aman. Namun derasnya air bah membuat ia kewalahan untuk mengevakuasi semua peralatan rumahnya, termasuk motor dan peralatas elektronik lainnya. 

“Motor saya ikat di pohon supaya tidak terbawa arus, sementara peralatan lainnya saya ungsikan di rumah tetangga. Saya belum tau apakah motor dan peralatan elektronik lainnya masih bisa berfungsi atau tidak. Untuk sementara saya mengungsi di rumah keluarga yang rumahnya tidak kena banjir,” ujarnya sambil menyeka keringat di wajahnya. 

“Waktu saya bangun, air sudah masuk dalam rumah, barang-barang belum semuanya di amankan, tiba-tiba air meninggi, terpaksa saya langsung ajak keluarga untuk secepatnya keluar rumah,” ujar korban lain, Imran. 

JEMBATAN yang menghubungkan jalur trans sulawesi antara Kabupaten Parigi Moutong dengan Kota Palu rubuh lantaran banjir bandang, Minggu (26/8). Putusnya jalur trans ini membuat para pelaku arus balik hanya bisa menyeberang dengan jalan kaki di antara potongan-potongan kayu yang menunpuk karena terseret banjir. FOTO: OETAR/MERCUSUAR

JEMBATAN PUTUS 

Sementara dari Kabupaten Parmout dilaporkan, satu orang meninggal dunia, satu orang hilang akibat bencana banjir bandang. Satu jembatan utama yang berada di Jalan Trans Sulawesi yang berada Desa Boyantongo Kecamatan Parigi Selatan putus serta puluhan rumah hanyut dan rusak berat serta ratusan rumah terendam air, akibat banjir bandang yang melanda empat desa di Kecamatan Parigi Selatan Sabtu malam sekitar pukul 19.30 wita. 

Bukan hanya itu ratusan hektar sawah dan kebun coklat milik warga di empat desa tersebut ikut rusak akibat diterjang banjir bandang tersebut. Sehingga ribuan warga 
mengungsi akibat banjir tersebut. 

Data sementara yang berhasil dikumpulkan saat ini dari badan penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Parmout menyebutkan korban yang meninggal dunia akibat banjir bandang tersebut yakni seorang perempuan bernama Kristin Tuwundila (80) yang terjebak didalam rumah saat banjir datang di desa Gangga. Sementara warga yang dinyatakan hilang diketahui bernama Gita, bocah dua tahun yang berasal dari Desa Gangga. 

Untuk sementara data kerusakan sendiri di Desa Gangga sebanyak 17 rumah hanyut , yang rusak parah 13 unit sementara itu di Desa Lemusa sebanyak 32 rumah rusak total, rusak berat 22 rumah, rusak ringan 28 rumah dan sebanyak 125 hektar sawah rusak, 16 hektar kebun coklat yang rusak serta sebanyak sembilan unit motor terseret banjir . 

Data sementara untuk kerugian yang terjadi di Desa Boyantongo sebanyak 14 unit rumah hanyut, rusak parah 11 unit, dan puluhan rumah terendam air banjir. Untuk Desa Dolago, data jumlah rumah yang rusak belum ada, namun dari pantauan media ini, belasan rumah terendam banjir dan puluhan hektar sawah yang baru saja ditanami padi ikut terendam.

Penulis Berita : Misbah Hidayat, Fathia, Fakhruddin, Indar dan Nurlela (Wartawan koran Harian Mercusuar)

SUMBER : www.harianmercusuar.com

0 komentar:

Poskan Komentar